Makalah Ingkar As-Sunnah by Ababil Krejengan


Makalah Ingkar As-Sunnah






KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahin

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat kepada kita semua dan shalawat beserta salam senantiasa kita curahkan kehadirat Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabat-sahabat serta para pengikutnya yang senantiasa pada sunnahnya pada akhir zaman.  Amin Ya Rabbal„ Alamin.
Ulum al-Hadits adalah salah satu bidang studi atau mata kuliah yang sangat penting bagi para pelajar dan mahasiswa yang ingin mempelajari hadist dan ke-islam-an. Seseorang tidak akan mampu (bisa) untuk memahami ayat al-qur’an bila tidak menyandarkan dengan ilmu hadits. Hadits tidak bisa difahami secara tekstual tanpa mengetahui ilmu-ilmu hadits (matan, sanad, rawi, dan takhrijul hadits ) dan lain sebagainya. Dalam makalah ini kami akan memaparkan (menjelaskan) tantang Ingkar As-Sunnah. insyaAllah akan kami jelaskan dalam makalah ini sebagaimana mestinya.

Ucapan terimakasih kami ucapkan kepada :
1. Ibu dan Bapak yang senantiasa mengiringi langkah kami dengan do‟a dan dukungannya.
2. Al Ust. Ali Al-Kaff, Lc., M.Th.I  selaku Dosen Pembimbing Mata Kuliah Study Hadits.
3. Rekan-rekan sesama mahasiswa Jurusan PAI Fakultas Tarbiah Institut Zainul Hasan Genggong Kraksaan Probolinggo.
4. Semua pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung, telah membantu terwujudnya makalah ini.

Pemakalah menyadari, makalah ini sangat jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kami senantiasa terbuka menerima masukan untuk perbaikan makalah ini. Mudah-mudahan makalah sederhana ini dapat membantu kelancaran kuliah kami khususnya, dan perkuliahan Study Hadits umumnya. Amin!


Kraksaan, 19 Juni 2016

Penyusun,

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................... 1
DAFTAR ISI.................................................................................................... 2
BAB I PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang ...................................................................................... 3
  2. Rumusan Masalah ................................................................................. 3
  3. Manfaat ................................................................................................. 4
  4. Tujuan ................................................................................................... 4

BAB II PEMBAHASAN
  1. Pengertian Ingkar As-Sunnah ………………………………….…….. 5
  2. Sejarah Perkembangan Ingkar As-Sunnah …………………….…..… 6
1.      Ingkar Sunnah Klasik …………………………………...…… 7
a)      Khawarij dan Sunnah ……………...…….…………… 8
b)      Syi’ah dan Sunnah …………………………………… 8
c)      Mu’tazilah ……………………………………………. 9
d)     Pembela Sunnah ………………….......…………....... 10
2.      Ingkar Sunnah Masa Kini (Modern) ..……………….………. 10
  1.  Argementasi Ingkar As-Sunnah ……………………...……...……... 11
  2. Bantahan Terhadap Ingkar As-Sunnah …………………………........ 13

BAB III PENUTUP
  1. Kesimpulan ........................................................................................ 15
  2. Kritik dan Saran ................................................................................. 15
DAFTAR PUSTAKA



BAB I
PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang
Hadits adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Saw, yang berupa Qauliah (perkataan), Fi’liah (pekerjaan), Taqririah (ketetapan ), Hammiah (keinginan atau hasrat Nabi Saw, yang belum terealisasi), dan Ahwaliah (yang menyangkut sifat-sifat dan kepribadian Nabi Saw)[1]. Hadits berkedudukan sebagai sumber hukum Islam yang kedua setelah Al-Qur’an.
Adanya hadits berfungsi sebagai penjelas ayat-ayat Al-Qur’an. Akan tetapi dari disampaikannya hadits-hadits yang disandarkan pada Rasulullah SAW tidak semua disetujui oleh semua ummat Islam.
Terdapat golongan yang  mengakui akan ke-tidak-benaran kehadiran hadits-hadits tersebut. Dengan pemikiran-pemikiran yang membuat kokohnya pendapat yang tidak mempercayai Sunnah tersebut, golongan-golongan yang terlibat pun ikut andil untuk mengingkari segala yang sampai pada mereka. Maka perlunya untuk membahas peristiwa Al-Inkar Al- Sunnah tersebut.

  1. Rumusan Masalah
1.      Apa Pengertian Ingkar As-Sunnah.?
2.      Bagaimana Sejarah Perkembangan Ingkar As-Sunnah.?
a)      Ingkar Sunnah Klasik
b)      Ingkar Sunnah Masa Kini (Modern)
  1. Apa Argumentasi Ingkar as-Sunnah.?
  2. Bagaimanakah Bantahan Terhadap Ingkar As-Sunnah.?



  1. Tujuan
Untuk mengetahui pengertian, sejarah, argumentasi dan bantahan terhadap ingkar as-sunnah.
  1. Manfaat
Dalam pembuatan makalah ini penulis bertujuan untuk memenuhi mata kuliah Study Studi Hadits dan memberikan penjelasan-penjelasan yang konfrehensif (luas dan menyeluruh) berdasarkan referensi-referensi buku-buku ilmiah.





BAB II
PEMBAHASAN

A.          Pengertian Ingkar As-Sunnah
Kata “Ingkar As-Sunnah” terdiri dari dua kata yaitu “ingkar” dan “sunnah”. Kata ingkar yang mempunyai beberapa arti di antaranya ; “Tidak mengakui dan tidak menerima baik dilisan dan dihati, bodoh atau tidak mengetahui sesuatu, dan menolak apa yang tidak tergambarkan dalam hati”.[2]
Ingkar As-Sunnah adalah sebuah sikap penolakan terhadap sunnah Rasul, baik sebagian maupun keseluruhannya. Mereka membuat metodologi tertentu dalam menyikapi sunnah. Hal ini mengakibatkan tertolaknya sunnah, baik sebagian maupun keseluruhannya.[3]
Abi  Hilal al-Askariy membedakan antara makna al-ingkar dan al-juhdu. Kata al-ingkar terhadap sesuatu yang tersembunyi yang tidak disertai pengetahuan, sedangkan al-juhdu terhadap sesuatu yang nampak dan di sertai dengan pengetahuan.[4]
Ada bebrapa definisi Ingkar As-Sunnah yang sifatnya hanya sedrrhana pembatasannya di antaranya sebagai berikiut;
  1. Paham yang timbul dalam masyarakat Islam yang menolak hadits atau sunnah sebagai sumber ajaran agama Islam kedua setelah Al-Qur’an.[5]
  2. Suatu paham yang timbul pada sebagian minoritas umat Islam yang menolak dasar hukum Islam dari sunnah shahih baik sunnah praktis atau yang secara formal dikodifikasikan para ulama’, baik secara totalitas mutawatir maupun ahad atau sebagian saja, tanpa ada alasan yang dapat diterima.[6]
Penyebutan ingkar as-sunnah tidak semata-mata berarti penolakan total terhadap sunnah. Penolakan terhadap sebagian sunnah pun termasuk dalam kategori ingkar sunnah, termasuk didalamnya penolakan yang berawal dari sebuah konsep berfikiryang dalamnya penolakan dari sebuah konsep berfikir yang janggal atau metodologi khusus yang diciptakan sendiri oleh segolongan orang- baik masa lalu maupun sekarang- sedangkan konsep tersebut tidak dikenal dan diakui oleh ulama hadis dan fiqih.[7]

Ada tiga jenis kelompok ingkar As-sunnah.
  1. Kelompok yang menolak hadis Rasulullah SAW secara keseluruhan.
  2. Kelompok yang menolak hadis-hadis yang tak disebutkan dalam Al-Quran secara tersurat atau tersirat.
  3. Kelompok yang hanya menerima hadis-hadis mutawatir (diriwayatkan oleh banyak orang setiap jenjang atau peridenya, tak mungkin mereka berdusta) dan menolak hadis-hadis ahad (tidak mencapai derajat metawatir) walaupun Shahih.
Mereka beralasan dengan ayat: QS. An-Najm : 28
وَمَا لَهُم بِهِۦ مِنۡ عِلۡمٍۖ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّۖ وَإِنَّ ٱلظَّنَّ لَا يُغۡنِي مِنَ ٱلۡحَقِّ شَيۡ‍ٔٗا ٢٨
Artinya: “Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuanpun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran” (QS. An-Najm ayat 28)

Mereka berdalil dengan ayat di atas sesuai dengan pemahaman atau penafsiran mereka sendiri (Ingkar as-Sunnah)[8]
Penjelasan ayat di atas itu adalah,  tidak memberi manfaat sedikit pun dan tidak pula berdiri pada pihak yang benar. Di dalam kitab sahih disebutkan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:
"إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ، فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ"
Artinya: “Jangan sekali-kali kamu mempunyai buruk prasangka, karena sesungguhnya buruk prasangka itu merupakan pembicaraan yang paling dusta”.[9]



B.           Sejarah Perkembangan Ingkar As-Sunnah
1.      Ingkar Sunnah Klasik
Pada masa sahabat, seperti dituturkan oleh Al-Hasan Al-Basri (w. 110 H), ada sahabat yang kurang begitu memperhatikan kedudukan sunnah Nabi SAW., yaitu ketika sahabat Nabi SAW  ‘Imran bin Husain (w. 52 H) sedang mengajarkan hadis. Tiba-tiba ada seorang yang meminta agar ia tidak usah mengajarkan hadis, tetapi cukup mengajarkan Al-Quran saja. Jawab ‘Imran,”tahukah anda, seandainya anda dan kawan-kawan anda hanya memakai Al-Quran, apakah anda dapat menemukan dalam Al-Quran bahwa salat dhuhur itu empat rakaat, salat ashar empat rakaat, dan salat magrib tiga rakaat?” Apabila anda hanya memakai Al-Quran, dari mana anda tahu tawaf (mengelilingi kabah) dan sa’i antara safa dan marwa itu tujuh kali?
Mendengar  jawaban itu, orang tersebut berkata, “Anda telah menyadarkan saya. Mudah-mudahan, Allah selalu menyadarkan anda.” Akhirnya sebelum wafat, orang itu menjadi Ahli Fiqh.[10]
Agaknya gejala-gejala Ingkar As-Sunnah seperti diatas, masih merupakan sikap-sikap individual, bukan merupakan sikap kelompok atau mahzab, meskipun jumlah mereka dikemudian hari semakin bertambah. Suatu hal yang patut dicatat, bahwa gejala-gejala itu tidak terdapat di negeri  Islam secara keseluruhan, melainkan secara umum terdapat di Irak. Karena ‘Imran bin Hushain dan Ayyub As-Sakhtiyani, tinggal di Basrah Irak. Demikian pula, orang-orang yang disebutkan oleh, Imam Syafi’i sebagai pengingkar sunnah juga tinggal di Basrah. Karena itu, pada masa itu di Irak terdapat faktor-faktor yang menunjang timbulnya faham Ingkar As-Sunnah.[11]
Dan itulah gejala-gejala Ingkar As-Sunnah yang timbul dikalangan para sahabat. Sementara menjelang akhir abat kedua hijriah muncul pula kelompok yang menolak sunnah sebagai salah satu sumber syariat Islam, disamping ada pula yang menolak sunnah yang bukan mutawatir saja.[12]



  1. Khawarij dan Sunnah
Apakah Khawarij[13] menolah Sunnah.?
Ada sebuah sumber yang menuturkan bahwa hadis-hadis yang diriwayatkan oleh para sahabat sebelum kejadian fitnah (perang sudara antara Ali bin Abu Thalib r.a. dan Mu’awiyah r.a.) diterima oleh kelompok khawarij. Degan alasan bahwa sebelum kejadian itu para sahabat dinilai sebagian orang-orang yang adil (muslIm yang sudah akil-balig, tidak suka berbuat maksiat, dan selalu menjaga martabatnya). Namun, sesudah kejadian fitnah tersebut, kelompok khawaarij menilai mayoritas sahabat Nabi SAW sudah keluar dari Islam. Akibatnya, hadis-hadis yang diriwayatkan para sahabat sesudah kejadian itu ditolak kelompok khawarij. Dengan alasan bahwa sebelum kejadian itu para sahabat dinilai sebagai orang-orang yang adil, namun setelah kejadian fitnah tersebut, kelompok Khawarij menilai mayoritas sahabat Nabi Saw, sudah keluar dari Islam.[14]

Pendapat ini yang disimpulkan oleh Musthafa As-Siba’I berdasarkan sumber-sumber yang terdapat dalam kitab Al-Firaq Baina Al-Firaq Karya ‘Abd Qadir Al-Baghdadi (w.429 H).[15]

  1. Syi’ah dan Sunnah.
            Kelompok Syi’ah[16] ini menerima hadits Nabawi sebagai salah satu sumber syariat Islam. Hanya saja, ada perbedaan mendasar antara kelompok syi’ah ini dengan golongan Ahl-AlSunnah (golongan mayoritas umat Islam), yaitu dalam hal penetapan hadis.
            Golongan syi’ah menganggap bahwa sepeninggal Nabi SAW., mayoritas para sahabat sudah murtad (keluar dari Islam),kecuali beberapa orang saja yang menurut mereka masih tetap muslim. Karena itu golongan syi’ah menolak hadis-hadis yang diriwayatkan oleh mayoritas para sahabat tersebut. Syi’ah hanya menerima hadis-hadis yang diriwayatkan oleh Ahl Al-Bait saja.[17]

c.       Mu’tazilah dan Sunnah
Apakah Mu’tazilah[18] menolak Sunnah.?
            Syekh MuhammadAl-Khudari Beik berpendapat bahwa mu’tazilah menolak sunnah. pendapat ini berdasarkan adanya diskusi antara Imam Asy-Syafi’i (w. 204 H) dan kelompok yang mengingkari sunnah. Sementara kelompok atau aliran pada waktu itu di Bashrah Irak adalah Mu’tazilah.[19] Prof. Dr. Al- Siba’i tampaknya sependapat dengan pendapat Al-Khudari ini.[20]
Ada sebagian Ulama Mu’tazilah yang tampaknya menolak Sunnah, yaitu Abu Ishak Ibrahimbin Sajyar, yang populer dengan sebutan Al-Nadhdham (w. 221-223 H).
Ia mengingkari kemukjizatan Al-Quran dari segi susunan bahasanya, mengingkari mu’jizat Nabi Muhammad SAW., dan mengingkari hadis-hadis yang tidak dapat memberikan pengertian yang pasti untuk dijadikan sebagai sumber syari’at Islam.[21]

  1. Pembela Sunnah
Pada masa klasik, Imam As-Safi’i  telah memainkan perannya dalam menundukkan kelompok pengingkar sunnah. Seperti telah disebutkan, dalam kitabnya Al-Umm, beliau menuturkan pendapatnya dengan orang yang menolak hadis. Setelah melalui perdebatan yang panjang, rasional, dan ilmiah, pengingkar sunnah akhirnya tunduk dan menyatakan menerima hadis. Oleh karena itu Imam As-Syafi’i kemudian diberi julukan sebagai Nashir As-Sunnah (pembela Sunnah).[22]

2.      Ingkar Sunnah Masa Kini (Modern)
            Sejak abad ke-III – awal abad ke-XIV H, tidak ada catatan sejarah yang menunjukkan bahwa dikalangan umat Islam terdapat pemikiran-pemikiran untuk menolak Sunnah sebagai salah satu sumber syari’at Islam, baik secara perorangan maupun kelompok. Pemikiran untuk menolak Sunnah yang muncul pada abad I H (Ingkar As-Sunnah Klasik) sudah lenyap ditelan masa pada akhir abad ke-III H.[23] Pada abad ke-XIV H pemikiran itu muncul kembali ke permukaan bumi, dan kali ini dengan bentuk dan penampilan yang berbeda dari Ingkar As-Sunnah Klasik muncul di Bashrah, Irak akibat ke-tidak-tahuan sementara orang terhadap fungsi dan kedudukan Sunnah, Ingkar As-Sunnah Modern muncul di Kairo, Mesir akibat pengaruh pemikiran Kolonialisme yang ingin melumpuhkan Dunia Islam.[24]
            Kapan aliran Ingkar As-Sunnah Modern itu lahir.?
            Muhammad Musthafa ‘Azami menuturkan bahwa Ingkar Sunnah Modern lahir di Kairo, Mesir pada masa Syekh Muhammad Abduh (1266-1323 H/1849-1905 M). dengan kata lain, Syekh Muhammad Abduh adalah orang yang pertama kali melontarkan gagasan Ingkar As-Sunnah pada masa Modern.[25]
            Syekh Muhammad Abduh berkata; “Umat Islam pada masa sekarang ini tidak mempunyai imam (pemimpin) selain Al-Qur’an, dan Islam yang benar adalah pada Islam masa awal sebelum terjadi fitnah (perpecahan)”.[26]  Beliau (Abduh) juga berkata; “Umat Islam sekarang tidak mungkin bangkit selama kitab-kitab ini (kitab yang di ajarkan di Alazhar dan sejenisnya), masih tetap diajarkan. Umat Islam tidak akan maju tanpa ada semangat yang menjiwai umat Islam abad pertama, yaitu Al-Qur’an. Semua hal selain Al-Qur’an akan menjadi kendala yang menghalangi antara Al-Qur’an dan Ilmu serta Amal.”[27]

            Abu Rayyan berpendapat, Selain Syekh Muhammad Abduh, murid Abduh yang tidak jauh beda dengan sang gurunya Sayyid Muhammad Rasyid Ridha’ yang juga sebagai pengingkar Sunnah.[28]

C.          Argumentasi Ingkar as-Sunnah
  1. Agama Bersifat Konkret dan Pasti.
            Mereka berpendapat bahwa agama harus dilandaskan pada suatu hal yang pasti. Apabila kita memanggil dan  memakai Sunnah, berarti landasan agama itu tidak pasti. Al-Quran yang kita jadikan landasan agama itu bersifat pasti, seperti dituturkan dalam ayat-ayat berikut :
الٓمٓ ١ ذَٰلِكَ ٱلۡكِتَٰبُ لَا رَيۡبَۛ فِيهِۛ هُدٗى لِّلۡمُتَّقِينَ ٢
Artinya: “Alif Lam Mim. Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa” (Qs. Al-Baqarah : 1-2)
Dan juga ayat berikut:
وَٱلَّذِيٓ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ مِنَ ٱلۡكِتَٰبِ هُوَ ٱلۡحَقُّ مُصَدِّقٗا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيۡهِۗ ٣١
Artinya : “Dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu yaitu Al Kitab (Al Quran) itulah yang benar, dengan membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya…(Qs. Al-Fathir : 31)
            Sementara apabila agama Islam itu bersumber dari hadits, ia tidak akan memiliki kepastian sebab keberadaan hadits –khususnya hadits ahad- bersifat dhanni (dugaan yang kuat), dan tidak sampai pada paringkat pasti. Karena itu, apabila agama Islam berlandaskan hadits –disamping Al-Quran- Islam akan bersifat ketidak pastian. Dan ini dikecam oleh Allah dalam Firman-nya;
وَمَا لَهُم بِهِۦ مِنۡ عِلۡمٍۖ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّۖ وَإِنَّ ٱلظَّنَّ لَا يُغۡنِي مِنَ ٱلۡحَقِّ شَيۡ‍ٔٗا ٢٨
Artinya: “Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuanpun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaidah sedikitpun terhadap kebenaran”. (Qs. An-Najm : 31)
Demikianlah argumentasi pertama Ingkar As-Sunnah, baik yang Klasik maupun Modern, seperti diungkapkan oleh Taufiq Sidqy (asal mesir) dam Jam’iyah Ahlul Qur’an (Pakistan).[29]

2.      Al-Qur’an Sudah Lengkap.
Dalam syari’at Islam, tidak ada dalil lain, kecuali Al-Qur’an. Allah Swt. Berfirman;
مَّا فَرَّطۡنَا فِي ٱلۡكِتَٰبِ مِن شَيۡءٖۚ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمۡ يُحۡشَرُونَ ٣٨
Artinya:  “Tiadalah Kami alpakan (tidakan) sesuatupun dalam Al-Kitab (Al-Qur’an), kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan” (Qs. Al-An’am : 38)

Jika kita berpendapat Al-Quran masih memerlukan penjelasan, berarti kita secara tegas mendustakan Al-Quran dan kedudukan Al-Quran yang membahas segala hal secara tutas. Padahal, ayat diatas membantah Al-Quran masih mengandung kekurangan. Oleh karena itu, dalam syari’at Allah di ambil pegangan lain, kecuali Al-Quran. Argumen ini dipakai oleh Taufiq Sidqi dan Abu Rayyah. [30]
3.      Al-Qur’an Tidak Memerlukan Penjelasan
            Al-Quran tidak memerlukan penjelasan, justru sebaliknya Al-Quran merupakan penjelasan terhadap segala hal. Allah berfirman;
وَنَزَّلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ تِبۡيَٰنٗا لِّكُلِّ شَيۡءٖ وَهُدٗى وَرَحۡمَةٗ وَبُشۡرَىٰ لِلۡمُسۡلِمِينَ ٨٩
Artinya: “Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri” (Qs. An-Nahl: 89)
أَفَغَيۡرَ ٱللَّهِ أَبۡتَغِي حَكَمٗا وَهُوَ ٱلَّذِيٓ أَنزَلَ إِلَيۡكُمُ ٱلۡكِتَٰبَ مُفَصَّلٗاۚ وَٱلَّذِينَ ءَاتَيۡنَٰهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ يَعۡلَمُونَ أَنَّهُۥ مُنَزَّلٞ مِّن رَّبِّكَ بِٱلۡحَقِّۖ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡمُمۡتَرِينَ ١١٤
Artinya: “Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al Quran) kepadamu dengan terperinci? Orang-orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al Quran itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu” (Qs. Al-An’am: 114)

            Ayat-ayat ini di pakai oleh par peng-Ingkar As-Sunnah, baik Klasik maupun Modern. Mereka menganggap Al-Quran sudah cukup karena memberikan penjelasan terhadap segala masalah. Mereka adalah orang-orang yang menolak hadis secara keseluruhan, seperti Taufiq Sidqi dan Abu Rayyah.[31]

  1. Bantahan Terhadap Ingkar As-Sunnah
  1. Bantahan Terhadap Argument Pertama
            Alasan mereka bahwa sunnah itu Dhanni ( Dugaan Kuat ) sedang kita di haruskan mengikuti yang pasti ( yakin ), masalahnya tidak demikain. Sebab, Al-Qur’an sendiri meskipun kebenarannya sudah di yakini sebagai Kalamu Allah- tidak semua ayat memberikan petunjuk hukumyang pasti sebab banyak ayat yang pengertiannya masih Dzanni (Ad-dalalah ).
            Bahkan, orang yang memakai pengertian ayat seperti ini juga tidak dapat menyakinkan bahwa pengertian itu bersifat pasti ( yakin ). Dengan demikian, berarti Ia jga tetap mengikuti pengertian ayat yang masih bersifat dugaan kuat (dzanni Ad-dalalah).
Firman Allah Swt, :
وَمَا يَتَّبِعُ أَكۡثَرُهُمۡ إِلَّا ظَنًّاۚ إِنَّ ٱلظَّنَّ لَا يُغۡنِي مِنَ ٱلۡحَقِّ شَيۡ‍ًٔا ٣٦
Artinya: “Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran.” (Qs. Yunus: 36)

            Yang di maksud dengan kebenaran ( Al-haq) di sini adalah masalah yang sudah tetap dan pasti. Jadi,maksud ayat ini selengkapnya adalah,bahwa dzanni tidak dapat melawan kebenaran yang sudah tetap denagn pasti, sedangkan dalam halmenerima hadis, masalahnya tidak demikian.
            Untuk membantah orang-orang yang menolak hadis ahad, Abu Al- Husain Al- Basri Al Mu’tazili mengatakan,”dalam menerima hadis- hadis ahad, sebenarnya kita memakai dali-dali pasti yang mengharuskan untunmenerima hadis itu” jadi, sebenarnya kita tidakmemakai dzanni yang bertentangan dengan haq, tetapi kita mengikuti atau memakai dzann yang memegang perintah Allah.

2.      Bantahan Terhadap Argumen Kedua Dan Ketiga
            Kelompok peng-Ingkar Sunnah, baik pada masa klasik maupun modern, umumnya ‘Kekurangan Waktu‘ dalam mempelajari Al-Qur’an. Hal itu di karena merka kebanyakan hanya memakai dalil (Qs. An-Nahl : 89) yang telah kami (pemakalah) sebutkan pada bagian Argumentasi Ingkar as-Sunnah bagian ke-3 (Al-Qur’an tidak memerlukan penjelasan).
            Sedangkan Argumen ke-2 (Al-Qur’an sudah lengkap), pada Qs. Al-An’am: 38. Hal itu tidak pada tempatnya sebab Allah Swt, juga menyuruh kita untuk memakai apa yang disampaikan oleh Nabi Saw, seperti dalam firman-Nya:
وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمۡ عَنۡهُ فَٱنتَهُواْۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ٧
Artinya: “..Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.” (Qs. Al-Hasyr: 07)
            Dan masih banyak ayat-ayat yang lainnya. Berdasarkan Teks Al-Qur’an, Rasulullah Saw, sajalah yang diberi tugas untuk menjelaskan kandungan Al-Qur’an, sedangkan kita di wajibkan untuk menerima dan mematuhi penjelasan-penjelasan beliau, baik berupa perintah maupun larangan. Semua ini bersumber dari Al-qur’an.[32]






BAB III
PENUTUP
  1. Kesimpulan
Ingkar As-Sunnah adalah suatu  paham atau pendapat perorangan atau kelompok, bukan gerakan atau aliran, ada kemungkinan paham ini dapat menerima sunnah selain sebagai sumber hukum Islam, misalnya sebagai fakta sejarah, budaya, tradisi, lain-lain.
Sejarah Perkembangan Ingkar As-Sunnah, Menurut Prof. Dr. Musthafa Al-Azhami sejarah ingkar as-sunnah klasik terjadi pada masa Asy-Syafi’I (w.204 H) abad ke-II H/7 M. kemudian hilang dari peredarannya selama kurang lebih sebelas abad. Kemudian pada abad modern ingkar as-sunnah timbul kembali di India dan Mesir dari abad 13 H/19 M, sampai pada masa sekarang. Sedang pada masa pertengahan ingkar as-sunnah tidak mencul kembali, kecuali Barat mulai meluaskan kolonialismenya ke Negara Islam dengan menaburkan fitnah dan mencorang-coreng citra Agama Islam.
 Argumentasi Ingkar As-Sunnah berpendapat ;
  1. Al-Qur’an turun sebagai penerang atas segala sesuatu secara sempurna, bukan yang di terangkan dan tidak memerlukan penjelasan.
  2. Al-Qur’an bersifat qath’i (pasti; absolute kebenarannya) sedang as-sunnah bersifat dhanni (relative; nisbi kebenarannya).
  3. Agama bersifat konkrit dan pasti. Dan lain sebagainya.

  1. Kritik dan Saran
Dari beberapa penjelasan di atas tentang penulisan pasti tidak lepas dari kesalahan penulisan dan rangkaian kalimat. Dan kami sebagai penyusun Makalah ini menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan seperti yang diharapkan para pembaca, khususnya pembimbing mata kuliah Studi Hadits. Oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya konstruktif, agar dapat dibuat acuan dalam terselesainya makalah kami yang berikutnya.



DAFTAR PUSTAKA

‘Azami, Musthafa. Prof. Dr. 2000. Studies In Early Literature. di terjemahkan oleh Ali Musthafa Ya’kub. Jakarta : Pustaka Firdaus.
Al-Hakim. tt. Al-Mustadrak ‘Ala Ash-Shohihain. Beirut: Dar Al-Ma’firat. Juz. I.
Al-Khudhari, Muhammad. Tt. Tarikh at-Tasyri’ Al-Islam. Kairo: Al Maktabah At-Tijariyah Al-Kubro.
As-Siba’I, Musthafa.1980. As-Sunnah wa Makanatuha fi At-Tasyri’ Al-Islami. Beirut: Al-Maktab Al-Islami. Juz I.
Ibnu Katsir, Imam Al-Hafiz Imaduddin Abul Fida Ismail. 2013. Tafsir Ibnu Katsir. Sofwere Ebook Versi CHM.
Khon, Abdul Majid. 2011. Ulumul Hadits. Jakarta: Amzah. Cet-V.
Majalah Sidogiri Edisi 109 Safar 1437 H/2016. hal. 54-55.
Rasyid, Daud. 2006. Sunnah Dibawah Ancaman: Dari Snouck Hugronje Hingga Harun Nasution. Bandung: Syaamil.
Shihab, Quraish. 2007. Sunnah-Syi’ah Bergandengan Tangan ! Mungkinkah? Kajian Atas Konsep Ajaran dan PendidikanJa. karta: Lentera Hati, Cet-II.
Solahuddin, M. Agus, & Agus Suyadi. 2013. Ulumul Hadits. Bandung: CV.Pustaka Setia. Cet-III.
Tim IAIN Syarif Hidayatullah. 1992. Eniklopedi Islam Indonesia. Jakarta: Djambatan.
Ya’qub, Ali Musthofa. 2004. Kritik Hadits. Jakarta: Pustaka Firdaus.
Link :
                  www.moh-ababil.blogspot.com   




[1] M. Agus Solahudin. Agus Suyadi, Ulumul Hadits, Cet-III, (Bandung: CV.Pustaka Setia, 2013), hal.17
[2] Abdul Majid Khon, Ulumul Hadits, Cet-V, (Jakarta: Amzah, 2011), 27.
[3] M. Agus Solahudin. Agus Suyadi, Ulumul Hadits,..hal. 207. Lihat Pula, Daud Rasyid, Sunnah Dibawah Ancaman: Dari Snouck Hugronje Hingga Harun Nasution, (Bandung: Syaamil.2006), hal.vi
[4] Abdul Majid Khon, Ulumul Hadits… 28.
[5] Tim IAIN Syarif Hidayatullah, Eniklopedi Islam Indonesia, (Jakarta: Djambatan, 1992), 429
[6] Abdul Majid Khon, Ulumul Hadits… 29
[7] M. Agus Solahudin, Ulumul Hadits… hal. 207
[8] Ibid.. hal. 208
[9] Imam Al-Hafiz Imaduddin Abul Fida Ismail, Tafsir Ibnu Katsir, (Sofwere Versi CHM, 2013).
[10] Al-Hakim, Al-Mustadrak ‘Ala Ash-Shohihain, (Beirut: Dar Al-Ma’firat.tt), Juz. 1. Hal. 109-110. Lihat pula, M. Agus Solahuddi… Op.Cit. hal.208.
[11] M. Agus Solahuddi…hal.209
[12] Ibid… hal.210
[13] Dari sudut Etimologi, kata Khawarij merupakan bentuk jamak dari kata Kharij, yang berarti “Sesuatu Yang Keluar”.
Sementara menurut pengertian Terminologi, khawarij adalah kelompok atau golongan yang tidak loyal kepada pimpinan yang sah. Dan yang dimaksud dengan Khawarij disini adalah golongan tertentu yang memisahkan diri dari kepemimpinan Ali bin Abu Thalib r.a.

[14] Musthafa As-Siba’I, As-Sunnah wa Makanatuha fi At-Tasyri’ Al-Islami. (Beirut: Al-Maktab Al-Islami, 1980), Juz I.hal. 22.
[15] M. Agus Solahudi… hal.210
[16] Kata Syi’ah secara Etimologi berarti “Pembela atau Pengikut”, sedangkan menurut Terminologi Syi’ah berarti “Mereka yang menyatakan bahwa Sayyidina Ali bin Abi Thalib adalah yang paling utama diantara para  sahabat dan yang berhak untuk memegang tampuk kepemimpinan dan imamah atas umat islam, demikian pula anak cucunya.”  - Majalah Sidogiri   Edisi 109 Safar 1437 H/2016. hal. 54-55.
Golongan Syi’ah ini terdiri dari berbagai kelompok dan tiap-tiap kelompok menilai kelompok lain sudah keluar dari Islam.
Sementara kelompok yang masih eksis hingga sekarang adalah kelompok Syi’ah Itsna ‘Asyariyah, bisa juga dikenal nama Imamiyah atau Ja’fariyah. Kelompok ini merupakan mayoritas penduduk iran, Irak, serta ditemukan juga dibeberapa daerah di Suriah, Kuwait, Bahrain, India,  juga di Saudi Arabia, dan beberapa daerah (bekas) Uni Sovyet. - Lihat Buku: Prof. Dr. M. Quraish Shihab, Sunnah-Syi’ah Bergandengan Tangan ! Mungkinkah? Kajian Atas Konsep Ajaran dan Pendidikan, Cet-II, (Jakarta: Lentera Hati, 2007), hal. 83.

[17] M. Agus Solahudi… hal.212
[18] Secara Etimologi Mu’tazilah adalah “Sesuatu Yang Mengasingkan Diri”. Sementara yang dimaksudkan disini adalah golongan yang mengasingkan diri dari mayoritas umat Islam karena mereka berpendapat bahwa seorang muslim yang Fasiq (berbuat maksiat) tidak dapat disebut mukmin atau kafir. Adapun golongan Ahl As-Sunnah berpendapat bahwa orang Muslim yang berbuat maksiat tetap sebagai mukmin, meskipun ia berdosa. Pendapat Mu’tazilah ini muncul pada masa Al-Hasan Al-Basri, dan dipelopori oleh Washil bin ‘Ata (w. 131 H).
[19] Muhammad Al-khudhari Beik, Tarikh at-Tasyri’ Al-Islam, (Kairo: Al Maktabah At-Tijariyah Al-Kubro, tt), hal. 186.
[20] As-Siba’I, Op.Cit. hal. 134.
[21] M. Agus Solahudin. Agus Suyadi, Ulumul Hadits, Cet-III, (Bandung: CV.Pustaka Setia, 2013), hal.213
[22] Ibid, hal. 214
[23] Ibid, hal. 215
[24] Ibid, hal. 215
[25] Ali Musthofa Yaqub, Kritik Hadits, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2004), hal. 40-44.
[26] M. Agus Solahudin, Op.Cit. hal. 216
[27] Ali Musthafa Yaqub, Kritik Hadits…hal. 44.
[28] Sebenarnya keterangan Syekh Muhammad Abduh diatas yang di nukil oleh Abu Rayyan, masih ditinjau kembali. Masalahnya, boleh jadi Abduh ketika mengatakan hal itu di dorong oleh semangat yang menggebu-gebu untuk membumikan ajaran Al-Qur’an sehingga ia berpendapat bahwa selain Al-Qur’an, tidak ada gunanya sama sekali, namun bagaimanapun ia telah dituduh sebagai pengingkar as-Sunnah oleh sebagian ulama’. (pen-pemakalah).
- Syekh Muhammad Abduh dalam kaitannya dengan hadits, yaitu ia menolak hadits Ahad untuk dijadikan dalil dalam masalah Aqidah (tauhid). Menurut Abduh, untuk masalah-masalah Aqidah hanya dapat dipakai hadits-hadits Mutawatir.  Apakah orang yang menolah hadits Ahad dalam masalah Aqidah dapat disebut pengingkar sunnah.? Tampaknya, para ulama’ belum sependapat dalam masalah ini.
[29] Musthafa ‘Azami, Studies In Early Hadith Literature. Diterjemahkan Ali Musthafa Yaqub. (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000), hal. 41.
[30] M. Agus Solahudin, hal. 221
[31] M. Agus Solahudin... hal. 221
[32] M. Agus Solahudin… hal. 225

REKONSTRUKSI ILMU TAFSIR by Ababil Krejengan



REKONSTRUKSI ILMU TAFSIR
Versi Dr. Abdul Hayyi Al-Farmawiy Al Azhariy
(Al Bidayah Fii Al-Tafsir Al-Maudhu’i)



Metode Penafsiran Al-Qur’an :
Al-Farmawiy membagi metode penafsiran Al-Qur’an (berdasarkan pendekatannya) kepada empat bagian yaitu;
  1. Metode Tahliliy, yaitu suatu metode yang menjelaskan makna-makna yang di kandung ayat Al-Qur’an yang urutannya disesuaikan dengan tertib ayat yang ada dalam mushhaf Al-Qur’an.
Metode Tahliliy di bagi menjadi 7 macam antara lain :
  1. Al Tafsir bil Ma’tsur.
Yaitu tafsir yang bersumber pada ayat Al-Qur’an sendiri, atau yang dinukil dari Nabi Muhammad Saw, sahabat, maupun dari tabi’in. Contoh;  Jami’ Al-Bayan fi Tafsir Al-Qur’an Karya Ibnu Jarir Ath-Thabariy (w.310 H).
  1. Al Tafsir bil Ra’yi.
Yaitu tafsir yang menggunakan ijtihad setelah menguasai berbagai disiplin ilmu yang terkait.[1]  Contoh; Mafatih Al-Ghaib karya Fakhrur Raziy (w.606).
  1. Al Tafsir Al-Shufiy.
Yaitu tafsir yang menggunakan analisis sufistik atau menakwilkan ayat Al-Qur’an dari sudut esoteric[2] atau berdasarkan isyarat tersirat yang tampak oleh se-orang sufi dalam suluknya. Contoh; Haqa’iq Al-Qur’an Karya Assulamiy (w.412 H).
  1. Al Tafsir Al-Fiqhiy.
Yaitu tafsir yang berkaitan dengan ayat-ayat hukum. Contoh; Ahkam Al-Qur’an Karya Al-Jashshah (munculnya tafsir ini bersamaan dengan madzhab fiqh), dan ­Rawa’ihul Bayan fii Tafsir Ayat Al-Ahkam Karya Dr. Muhammad Ali As-Shabuni.
  1. Al Tafsir Al-Falsafiy.
Yaitu tafsir yang menggunakan analisis disiplin ilmu-ilmu filsafat.[3] Contoh; Mafatih Al-Ghaib karya Fakhrur Raziy (w.606).
  1. Al Tafsir Al-‘Ilmi.
Yaitu penafsiran yang menggali kandungan Al-Qur’an berdasarkan Epistimologi (teori ilmu pengetahuan). Contoh; Al-Qur’an  wa Al-‘Ilmi Al-Hadits karya ‘Abdur Razzaq Nauval.[4]
  1. Al Tafsir Al-Adabiy Al-Ijtima’i.
Yaitu tafsir yang menitikberatkan penjelasannya ayat Al-Qur’an dari segi ketelitian redaksinya kemudian menyusun kandungan ayat tersebut dengan tujuan utama memaparkan tujuan Al-Qur’an. Contoh; Tafsir Al-Manar Karya Sayyid Muhammad Rasyid Ridha.
  1. Metode Ijmaliy, yaitu menafsirkan ayat Al-Qur’an dengan cara mengemukakan makna ayat secara global, sistematikanya mengikuti urutan surat Al-Qur’an, sehingga makna-maknanya saling berhububgan. Dalam metode ini, mufassir juga meneliti, mengkaji, dan menyajikan asbab al-nuzul ayat dengan meneliti hadits yang berhubungan dengannya, sejarah dan atsar dari salaf as-shalih. Contoh; Tafsir Al-Qur’an Al-Karim karya Muhammad Farid Wajdi.


  1. Metode Muqaran, yaitu menafsirkan ayat dengan cara perbandingan.
Perbandingan ini dalam tiga hal;
  1. Perbandingan antar ayat Al-Qur’an, contoh; Durrah Al-Tanzil wa Ghurrah Al-Ta’wil karya Al-Iskafiy.
  2. Perbandingan ayat Al-Qur’an dengan Hadits, dan
  3. Perbandingan penafsiran antar mufassir, contoh; Al_jami’li Ahkam Al-Qur’an Karya Ibnu Jarir Al-Qurthubiy.
  1. Metode Maudhu’I, yaitu menafsirkan ayat Al-Qur’an secara tematis.[5] Metode ini mempunyai dua bentuk;
  1. Membahas satu surat Al-Qur’an dengan menghubungkan maksut antar ayat serta pengertiannya secara konprehensif (menyeluruh). Dengan metode ini ayat tampil dalam bentuknya yang utuh. Contohnya; Al Tafsir Al Wadhih Karya Muhammad Mahmud Al-Hija’i.
  2. Menghimpun ayat Al-Qur’an yang mempunyai kesamaan arah dan tema, kemudian di analisis dan dari sanalah ditarik kesimpulan. Biasanya, model ini diletakkan di bawah pembahasan tertentu. Contoh; Al-Mar’ah fi Al-Qur’an karya ‘Abbas Mahmud Al-Aqqad.  


Sumber : Islah Gusmian,  Khazanah Tafsir Indonesia Dari Hermeneotika hingga Ideologi, Cet-I, (Jakarta: Penerbit Teraju, 2003), hal. 113-115




REKONSTRUKSI ILMU TAFSIR
Versi Dr. Nashruddin Baidan
Bentuk  Tafsir :
  1. Tafsir Bil Ma’tsur/Naqliyah (riwayah),
  2. Tafsir Bil Ra’yi/’Aqli/Dirayah (rasional)
Metode Tafsir :
  1. Analisis (tahliliy)
  2. Global (ijmaliy)
  3. Komparatif (muqaran)
  4. Tematik (maudhu’iy)
Corak Tafsir :
  1. Tasawuf
  2. Fiqh (hukmiyah)
  3. falsafiy
  4. Kombinasi
  5. Social Kemasyarakatan, dan lain-lain.

ibid Hal. 118



[1] Imam As-Suyuthi menyebut ilmu disiplin itu sebanyak 15 yaitu, Ilmu Lughah [bahasa], Ilmu Nahwu, Ilmu Tashrif, Ilmu Isytaq, Ilmu Ma’aniy, Ilmu Badi’, Ilmu Qira’at, Ilmu Ushuluddin, Ilmu Ushul Fiqh, Ilmu Asbab an-Nuzul, Ilmu Nasakh-Mansukh, Ilmu Fiqh, Ilmu Hadits, Ilmu al-Muhabah [ilmu yang diberikan oleh Allah Swt,  kepada yang mengamalkan apa yang diketahui. Lihat As-Suyuthi, Al-Itqan fi Ulum Al-Qur’an
[2] Esoteric : Bersifat Khusus (Rahasia), hanya diketahui dan difahami oleh beberapa orang tertentu.
[3] Tafsir model ini muncul setelah dimasa ‘Abbasyiyah terjalin hubungan antara umat islam dengan Persia, Yunani, dan India serta terjemahkannya berbagai buku.
[4] Jenis tafsir ini muncul secara fragmentasi dalam kitab-kitab Tafsir Al-Ra’yi, khususnya ketika membahas ayat-ayat kauniyah.
[5] Sebagai metode spesifik menurut Al-Farmawiy, Metode Maudhu’i ini di perkenalkan oleh Dr. Ahmad Al-Sayyid Al-Qummiy, (ketua jurusan tafsir di Universitas Al-Azhar).

Sayyidah Aisyah Chantieka


Assalamu’alaikum… 

 

            Gimana kabar adek sekarang…? Kakak harap kabar adek baik-baik saja disana. Adek udah makan belum ia..? Eemh… Adek orangnya baik… banget sama kakak J. Gak kayak kakak.. orangnya suka usil.. sama adek L... maafin kakak ia…
            Ingat gak dek waktu kakak pertama kali masuk ke kelasnya adek,..? Kakak masuk ke kelasnya adek karna  di ajak temen kakak sendiri yang kebetulan dia dulu sekelas dengan kakak sebelum kakak kuliah “A namanya”. Waktu itu kakak ada di depan kelasnya adek, kakak juga gak ada Dosen waktu itu ia ikut aja..-
            Setelah kakak masuk ternyata di kelasnya adek rame banget, temen-temennya adek bercanda semua.. apalagi sama “si B” temennya adek itu yang banyak guyonnya n makanan terus kerjanya, dia orangnya emang gitu dek, tapi kakak seneng sama dia, dia gak gampang marah orangnya. Awalnya kakak malu mau masuk, ia… karna kakak emang gak pernah masuk ke kelasnya adek sebelumnya. Waktu itu adek bawak makanan, adek nawarin ke kakak “makan bil..” tapi maaf dek, kakak gak ikut makan dengan teman-teman adek yang lain, kakak malu..  Teman kakak ini (A) bilang… “Nur riah endik adek nẻng ginggung”, adekpun bertanya “sapah A sengak temmoh yeh etindakah bik engkok..” (dengan nada bercanda) “njek congocoh, sapah nyamanah..?” Tanya adek kedia. Teman kakak (A) itupun bilang “C nyamanah kamar B-3..”. sebelumnya temen kakak ini emang sudah tau kalau kakak SMSan sama dia pas pulangan.. (sekitar tahun 2014an kakak SMSan sama dia), adek tanyak ke kakak “sampean sapanah C..? cowo’en tah..?” waktu itu kakak jawab “ gak bak saya sepupunya dia..”. adek masih bertanya lagi “ ia tah.. sepupu apa sepupu…?” kakak masih menjawab “ia bak dia sepupunya saya…”. Inget gak ama cerita ini…

Waktu terus berjalan…
            Mungkin adek masih inget juga, waktu itu kakak ada di depan kelas Tahfidzul Qur’an sebelah timurnya academic sedangkan adek ada di dalam kelasnya, kakak nanyak melalui SMS temen kakak “ si A” itu, “ maaf bak A.nya  ada gak..?” adek bales SMS.nya kakak “ ada dek nie di depan saya lagi duduk-duduk”, kakak tanyak lagi.. “sibuk gak bak..?”-- “gak dek dia gak sibuk, nie Hp.nya di pegang saya skrg.., knp..?” jawab adek sambil bertanya ke kakak. Kakakpun menjawab “gpp bak cuma nanyak”.  (beberapa pertanyaanpun saling kita tanyakan melalui SMS tersebut). 

Waktu terus berjalan…
            Pernah di suatu saat adek telp kakak yang waktu itu adek sendiri meminta kakak untuk datang ke kampus. Setibanya kakak di kampus kakak liat adek di lantai dua yang posisinya di jalan untuk menuju ke ruangan rector.at lantai dua tersebut. “Hei bill..”(dengan muka yang cerah sambil tersenyum dan mengisyaratkan dengan lambaian tangan) adek panggil kakak dengan pannggilan itu. Kakak langsung naek ke lantai dua dan menghampiri adek, di situ pula ada senior IPNU temen kakak. “Nur kennal kariah ben..?” tanya temen kakak itu ke adek sambil melihat ke arah kakak. “ iyeh kennal arapah.. “ jawabnya adek ke dia. Dia bertanya lagi “iyeh ta’ rapah jhe’..”.
            Adek duduk di kursi yang telah ada di tempat itu kitapun mulai berbicara :
“udah lama bak pean  disini..?“  Tanyaku ke adek. Adek pun menjawab “ gak bill, baru datang, nie saya ikut mba’…. - kitapun saling bertanya di tempat itu sampai akhirnya adek menanyakan “pean sapa.nya C..?” - “saya sepupunya dia bak..,“ bla-bla-bla-bla.
Adek masih bertanya lagi “kalau sama si D..?”. kakak jawab “dia temennya saya bak, temen kampus…” sampai beberapa pertanyaan yang lainnya kita saling bertanya satu sama lain diwaktu itu. Kakak masih inget juga kok waktu adek mau liat bukunya kakak yang cover.nya warna hitam tapi kakak gak izinin, tau gak kenapa ..? karna buku itu buku Syi’ah yang isinya gak pantes adek baca. Maaf ia dek…L. ! Oia kakak juga minta maaf… banget sama adek. Kakak sampek buat adek nangis dan ninggalin adek sendirian disana.. waktu itu.. “Maafin Gak…?”L  Maafin ia kan adek orangnya baik..
 
Waktu terus berjalan…
            Pernah juga…
Waktu itu hari minggu tgl 29.11.15 suasananya masih pagi menjelang siang kita berbicara dengan rasa sangat senang. Awalnya kita berbicara di lantai satu eh gak tau kenapa kita kok bisa pindah ke lantai dua (Perpus), dari senengnya sampek lupa waktu masak dari jam 09:30 s/d 01:30… Gila tapi QT Ber-2  seneng kok.. hehe.. J Adek cukup senyum aja…
Maaf untuk cerita ini di sensor..hehe.. L-

Waktu terus berjalan…
            Masih ingatkan semua tentang kita…???  sering kita berbicara, berkomunikasi lewat SMSan, telp.an, bahkan kita sering juga jalan bareng dan saling menunggu tuk bisa ketemu pas perkuliahan selesai.. sampai disuatu hari  kita pulangnya  sore…banget, yang satu sambil nunggu bis datang, dan yang satunya lagi setia dengan orang tersebut sampai-sampai ia lupa akan rumah dan tanggungan yang di pondok.
            “Adek masih ingat gak ia..? J  di depan academic”. 

Waktu terus berjalan…

Adek masih inget gak waktu kita duduk dan berbicara di depan kelas di lantai tiga..? yang disitu ada mba’.nya adek dengan masnya.
Kakak masih ingat waktu adek kasik boneka kayu (Danbo) kesukaan kakak, kakak seneng… banget dek n terima kasih  bonekanya, kakak juga inget waktu itu adek bilang “kak adek pengen liat muka kakak terus kayak gini..biar dipondok gak kangen lagi…” (yang saat itu bertatapan sangat deket banget) gak tau kenapa adekku ini sampek bilang begitu ia.. *

Waktu terus berjalan…
            Adek masih ingat gak kita dan mba’ (D) duduk di depan kelas ekonomi atau depan kelas Tahfidzul Qur’an. Kita berbicara tentang masalah buku, fiqh empat madzhab (masalah gerakan lebih dari tiga kali dalam shalat, dan juga masalah wudlu’)., sampai-sampai masalah ahlu al-bait genggong yang kita bahas kemaren, inget gak..?  tapi itu kurang rame karna yang ngebahas cuma adek dan kakak, sedangkan mba’ (D) sibuk banget dengan Hp.nya.. Ta’ Kenneng Eganggu.. Dimmah Rocen Mon Bedheh Hp.  Tojuk Selaen. Hehe…J.

Waktu terus berjalan…
            Hingga akhirnya semua kisah tentang kita ternyata tak selamanya bahagia dan bisa terus bersama toh walaupun kakak sering bilang sama adek “Dek kakak takut kedepannya...” yang sudah adek tau maksutnya dan kakak sudah beberapa kali jelasin sama adek,   hingga  sampai saat ini kakak masih berusaha untuk menyatukan hubungan ini..
Namun semua usaha kakak selama ini sia-sia sama adek, kakak sudah berusaha sekuat dan sebisa  mungkin tentang sikap adek sama kakak, saya akui semua itu memang kakak yang salah dan emang bener kakak Egois.             Maafin saya dek.
Maaf dek kalau selama ini kakak terus-menerus  menyakiti adek.. merasa adek terganggu dengan kedatangan kakak di kehidupan adek. Adek masih ingat gak kertas yang adek kasikan ke kakak..?  yang isinya..“Ikhlasku Mencintaimu Ikhlasku Kehilanganmu..” dan SMS.nya adek : “Mungkin Kedepannya Lebih Baik… Putus Bukan Berarti Musuhan Kan..?.” 05.03.2016, 10:53 pm. dan kenapa adek menginginkan kita berpisah dan kembali seperti dulu lagi dimana kita gak ada perasaan… Mungkin  adek masih inget dan saat ini kakak masih menyimpan SMS yang  adek kirim waktu itu,  : “Adek Gak Mutusin Kakak Karna Memang Dari Dulu Kita Gak Pernah Jadian Kan..?“ 07.03.2016, 02:24 pm. adek juga kirim SMS yang isinya : “Memangnya Dari Dulu Kakak Nanyak Ke Adek Tah.. Kalau Adek Mau Apa Gak Jadi Pacar Kakak..?”. 07.03.2016, 02:27 pm.

Memang kakak gak pernah nanyak sama adek “Kalau Adek Mau Apa Gak Jadi Pacar Kakak..?”. tapi sejauh ini sedikitpun adek gak pernah merasa tah tentang apa yang telah kakak lakukan sama adek..? - “Setidaknya Diriku Pernah Berjuang Meski Tak Pernah Ternilai Dimatamu..”. - di saat itulah kakak merasakan patah hati bersama adek. dan kenapa “Adek Hadir Bigitu Dekat Dalam Kehidupannya Kakak, Kalau Akhirnya Meninggalkannya..”.
Selagi kakak mampu untuk menahan rasa sakit yang adek lakukan sama kakak selama ini, saya akan menahannya dek. Tapi kesabaran kakak terbatas. Kakak gak bisa ungkapinnya pas di hadapan adek mungkin dengan kertas ini bisa membuat adek ngerti sama kakak… Sekarang kakak turuti apa yang adek mau termasuk “Menjauh” dari saya..
Tapi sejauh ini kakak seneng... banget bisa kenal sama adek, adek orangnya baik, asyik, bisa menghibur lagi.. J. Ia udah dek jaga hati dan kondisi adek baik-baik, jangan lupa shalat dan belajarnya yang rajin… pesan dari kakak “Banyaklah Membaca..”   


Kakakmu ‘96
                                                                                                  

Ababil Krejengan

Ababilkrejengan@gmail.com